Kebakaran Hutan

Sejumlah Kabupaten di Sumatera Selatan Ditetapkan Status Siaga Kebakaran Hutan

Banyuasin, Musi Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir, telah memberlakukan status siaga darurat kebakaran hutan

Featured-Image
Ilustrasi kebakaran hutan (Unsplash/Landon Parenteau)

Sejumlah kabupaten di Sumatera Selatan telah ditempatkan dalam status siaga, tingkat kedua tertinggi dari sistem peringatan empat tingkat negara ini, untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan menjelang puncak musim kemarau. Tiga kabupaten, yaitu Banyuasin, Musi Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir, telah memberlakukan status siaga darurat dari bulan Juni hingga setidaknya November.

"Ini adalah bagian dari upaya untuk mengurangi kebakaran hutan dan lahan, mengingat ketiga daerah tersebut rentan," kata Sudirman, seorang pejabat tinggi di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan, seperti dikutip oleh Kompas.com pada hari Selasa. Ia menambahkan bahwa sembilan kabupaten lainnya juga termasuk di antara daerah yang paling rentan dan mungkin akan ditempatkan dalam status siaga darurat dalam waktu dekat.

Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hingga 132.000 hektar di Sumatera Selatan terkena dampak kebakaran hutan dan lahan tahun lalu. Dalam dekade terakhir, situasi terburuk tercatat pada tahun 2015, ketika lebih dari 646.000 hektar hutan terbakar. Untuk mencegah kondisi ini terulang, BPBD Sumatera Selatan telah meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengirimkan delapan helikopter ke provinsi tersebut.

"Dua helikopter akan digunakan untuk patroli daerah guna mencari titik panas, sementara enam helikopter lainnya akan digunakan untuk pengeboman air guna memadamkan kebakaran di tempat yang sulit dijangkau," tambah Sudirman. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperkirakan bahwa puncak musim kemarau tahun ini akan terjadi antara Juli dan Agustus.

Selain langkah-langkah ini, pemerintah daerah juga mengintensifkan upaya edukasi kepada masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan serta cara-cara pencegahannya. Program-program sosialisasi dan pelatihan bagi masyarakat lokal, khususnya yang tinggal di daerah rawan kebakaran, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan mereka.

Sudirman juga menekankan pentingnya kerjasama antara berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta, untuk menghadapi tantangan kebakaran hutan dan lahan ini. "Hanya dengan kerjasama yang baik kita bisa mengatasi masalah ini dan melindungi lingkungan serta kehidupan masyarakat," ujarnya.

Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk segera melaporkan jika menemukan titik api atau kegiatan pembukaan lahan dengan cara dibakar, yang sering menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan. Upaya pencegahan dan penanganan yang cepat diharapkan dapat meminimalisir kerusakan yang lebih luas dan kerugian yang lebih besar.

No comments yet. Start the discussion
TrendingMore